Ingin tahu soal 5 Destinasi Super Prioritas,klik di sini ya!
Sakombu Eco Basket, Hasilkan Produk Eco-Friendly dan Berdayakan Perempuan

Sakombu Eco Basket, Hasilkan Produk Eco-Friendly dan Berdayakan Perempuan

11

Banyaknya pelaku ekonomi kreatif yang berinovasi menghasilkan produk-produk eco-friendly mendorong kesadaran masyarakat untuk menggunakan produk-produk ramah lingkungan. Dari banyaknya jenama yang ada, Sakombu Eco Basket menjadi salah satu jenama lokal Indonesia yang terus berupaya menghasilkan produk-produk ramah lingkungan. 

Dewi Febriana Syamri, selaku pendiri Sakombu Eco Basket berprinsip untuk memberi kesempatan hidup baru bagi tanaman-tanaman liar yang dianggap merugikan. Hal inilah yang akhirnya mendorong pelaku ekraf yang akrab disapa Dewi ini memanfaatkan serat alam yang disulap menjadi berbagai produk kerajinan bernilai lebih. 

Awal mula Dewi menciptakan produk kriya berupa tas anyaman sejak mengenyam pendidikan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). “Secara personal saya suka kriya anyaman, dan saya ingin mengangkat kriya dari kampung halaman saya di Ranah Minang, Sumatra Barat yang kebetulan adalah kriya anyaman itu sendiri,” ungkap Dewi. 

Satu hal yang menarik perhatian adalah produk Sakombu Eco Basket terbuat dari serat alam yang bernama Mansiang, yakni sejenis rumput liar atau gulma yang tumbuh di rawa-rawa. Serat alam tersebut diberdayakan masyarakat lokal untuk disulap menjadi anyaman. Berawal dari situlah, Sakombu Eco Basket mengembangkan desain anyaman ini menjadi bervariasi dan lebih kekinian.

Proses pembuatan produk Sakombu dimulai dengan sederetan tahapan alami. Butuh waktu sembilan bulan untuk panen pertama serat mansiang. Kemudian dijemur di bawah matahari langsung selama beberapa hari, dan dipipihkan dengan cara diserut. Hal ini dilakukan agar serat mudah dianyam untuk dibuat tas maupun keranjang.

“Semakin detail produknya, makin lama waktu pembuatannya. Untuk satu tote bag besar misalnya, bisa membutuhkan waktu anyam kurang lebih 3 hari. Itu pun belum termasuk durasi pengeringan serat dan proses penyerutan ya,” jelas Dewi.

BACA JUGA: 7 Jenama Fesyen Lokal Ramah Lingkungan, Fokus Gunakan Bahan Organik 

Secara keseluruhan, produk yang dihasilkan Sakombu Eco Basket sejak 2018 sudah ada lebih dari 60 produk. Sekilas, produk Sakombu Eco Basket mungkin tidak sebanyak jenama lokal lainnya. Meski begitu, bagi Dewi, jumlah produk dipengaruhi oleh proses pengerjaan tangan yang lama dengan pengrajin lokal yang terpilih. Hal inilah yang membuat produk-produk Sakombu Eco Basket bukan menjadi produk massal.

Tentunya kehadiran Sakombu Eco Basket menjadi pilihan sempurna untuk tampil cantik tanpa merusak Bumi. Mengingat, sebagai produk eco friendly, 90% produk Sakombu merupakan anyaman mentah yang tidak mewarnai, alias hanya mengandalkan warna serat mansiang itu sendiri. Sedangkan, penggunaan warna sintetis saat ini hanya sekitar 10% dari keseluruhan proses produksi.

Produk Sakombu tidak hanya didapatkan secara online melalui media sosial. Sobat Parekraf bisa mendapatkan produk-produk Sakombu Eco Basket di beberapa offline store di Jakarta dan Bali. Selain itu, Sakombu Eco Basket juga kerap mendapatkan pesanan khusus untuk dipasarkan ke luar negeri, salah satunya ke Paris.

BACA JUGA: 5 Brand Fashion Lokal Merambah Kancah Internasional 

Foto: Proses diskusi membuat produk Sakombu Eco Basket yang melibatkan kaum perempuan (Dok. Sakombu Eco Basket)

Produk Ramah Lingkungan yang Berdayakan Kaum Perempuan 

Fakta menarik lainnya, Sakombu Eco Basket berupaya memberdayakan kelompok pengrajin perempuan yang terdiri ibu rumah tangga dengan taraf hidup sederhana. Hebatnya, sekelompok pengrajin tersebut berusia 50 tahun hingga hampir 80 tahun. “Keahlian mereka dalam menganyam sayang jika tidak terus diberdayakan. Terlebih lagi, produk-produk ramah lingkungan ini juga harus terus dikembangkan dan dibanggakan,” ungkap Dewi.

Dewi mengaku jika dirinya turun langsung untuk mengunjungi pengrajin di pedalaman. Untuk membangun kedekatan emosional, Dewi sempat tinggal beberapa waktu di rumah pengrajin, melakukan kegiatan menganyam bersama, berdiskusi mengembangkan, memodifikasi sekaligus menciptakan desain-desain baru secara intens dan kekeluargaan.

Walau awalnya sulit untuk menyampaikan ide-ide baru ke tengah pengrajin yang terbiasa menganyam bentuk yang itu-itu saja. Namun, dengan terus memberi dorongan dan semangat, serta memberi referensi perkembangan anyaman, akhirnya ibu-ibu pengrajin tertarik untuk mencoba. “Akhirnya, proses trial and error pun kami jalani bersama. Sehingga, sekarang sudah terhitung puluhan desain baru sudah kami ciptakan di bawah bendera Sakombu Eco Basket,” bangga Dewi.

Hebatnya lagi, Sakombu Eco Basket juga berhasil meraih banyak penghargaan. Seperti salah satunya adalah mendapatkan Deureuham (Islamic Creative Economy Competition) pada 2019, penghargaan Good Design Indonesia (GDI) 2023 dari Kemendag RI, serta diikutkan dalam kontes Good Design Award di Jepang dan berhasil menjadi salah satu produk kriya Tanah Air yang mendapatkan penghargaan G-Mark GDA 2023.

Selain itu, Sakombu Eco Basket juga sudah pernah menjalin kolaborasi dengan jenama lokal lain. Salah satunya dengan jenama lokal Sejauh Mata Memandang (SMM). Dalam kolaborasi tersebut, Sakombu Eco Basket turut serta sebagai aksesoris pelengkap SMM di Jakarta Fashion Week 2020, dan berhasil masuk dalam salah satu edisi pada majalah Harper's Bazaar Indonesia.

BACA JUGA: Penerapan Sustainable Packaging Ramah Lingkungan pada Produk Lokal 

Cover: Salah satu produk dari Sakombu Eco Basket (Dok. Sakombu Eco Basket)

Kemenparekraf / Baparekraf
Kemenparekraf/Baparekraf RIRabu, 17 April 2024
3419
© 2024 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif