Beranda >> ragam ekonomi kreatif >> Rencana SIlicon Valley Indonesia, Diharapkan Mampu Mendorong Inovasi Digital Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
banner foto

Rencana SIlicon Valley Indonesia, Diharapkan Mampu Mendorong Inovasi Digital Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Aplikasi

0

19 April 2021 oleh Kemenparekraf/Baparekraf RI
328
Pandemi COVID-19 memberi dampak besar bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia. Karena itu, pemerintah mendorong terciptanya inovasi-inovasi baru agar sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) dapat kembali pulih, salah satunya melalui inovasi digital.
Inovasi digital merupakan kebutuhan substansial bagi sektor parekraf. Mengingat tren pemasaran saat ini telah beralih ke ranah digital. Strategi inovasi parekraf juga diwujudkan dengan rencana strategis pembangunan “Silicon Valley” Indonesia.
Seperti diketahui, Silicon Valley merupakan julukan bagi daerah selatan San Francisco Bay Area, California, Amerika Serikat. Di sana berdiri banyak perusahaan yang bergerak dalam bidang komputer dan teknologi.
Silicon Valley menyumbang pemasukan angka yang cukup tinggi bagi pendapatan domestik bruto Amerika Serikat. Melihat keberhasilan tersebut, pemerintah Indonesia berharap dapat membangun pusat industri kreatif serupa.
Dilansir dari laman Kementerian Informasi dan Komunikasi (Kominfo), pemerintah memiliki rencana strategis pembangunan Silicon Valley van Indonesia yang diberi nama Be Creative District (BCD). Rencana strategis Silicon Valley Indonesia ini masuk dalam proyek super prioritas 2020-2024 yang dirilis Bappenas. Dalam rencana tersebut, proyek Be Creative District akan dibangun di wilayah Maja, Rangkasbitung, dan Karawang.
Selain pada daerah tersebut, pemerintah juga memiliki kandidat lain untuk membangun proyek Silicon Valley Indonesia, yakni di Bandung dan Yogyakarta. Pihak pelaksana Be Creative District adalah Kemenparekraf/Baparekraf, KemenPUPR, Kemendag, Pemda, dan badan usaha.
Untuk mewujudkan proyek Be Creative District, pemerintah gelontorkan anggaran dana sebesar Rp100,3 triliun. Pemerintah juga memfasilitasi untuk menghubungkan kawasan-kawasan BCD dengan kampus-kampus di Indonesia. Strategi ini dilakukan agar ketersediaan SDM terlatih dapat selalu terpenuhi.
Nantinya pusat inovasi parekraf tersebut akan digunakan untuk kegiatan penelitian dan pengembangan yang berorientasi pada teknologi revolusi industri. Beberapa sektor yang akan dikembangkan di Silicon Valley Indonesia antara lain: bioteknologi, semikonduktor, komputer kuantum, serta teknologi penyimpanan energi.
Keberadaan Silicon Valley Indonesia harapannya menjawab tantangan penyerapan tenaga kerja di tanah air. Bonus demografi Indonesia dapat dijadikan sebagai suatu modal awal untuk mewujudkan rencana membangun pusat inovasi parekraf tersebut.
Upaya untuk membangun Silicon Valley Indonesia juga sejalan dengan visi Indonesia sebagai negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Salah satu langkah yang dilakukan untuk mewujudkan hal ini adalah menumbuhkan teknopreneur baru.
Ilustrasi belanja online menggunakan aplikasi. Pesanan diantarkan secara langsung oleh kurir. (Foto: Shutterstock/Odua Images)
Kemenparekraf/Baparekraf Gandeng Penyedia Layanan Aplikasi Digital
Dalam rangka membuat sebuah inovasi di sektor parekraf, pemerintah menggandeng beberapa pihak terkait. Salah satu pihak yang turut dilibatkan dalam kerja sama ini adalah penyedia layanan aplikasi digital.
Pada 29 Juli 2020 lalu, pemerintah melalui Kemenparekraf/Baparekraf melakukan kerjasama dengan penyedia layanan wisata, Traveloka. Kerjasama ini dilakukan mengingat Traveloka merupakan salah satu pihak yang terkena dampak signifikan dari pandemi.
Mitra Traveloka yang mayoritas adalah pekerja industri kreatif terkena dampak besar-besaran selama COVID-19. Hampir seluruh hotel mitra Traveloka mengalami penurunan terendah sejak pertama kali berdiri. Belum lagi, beberapa mitra di bidang kuliner terpaksa gulung tikar.
Untuk itu, Kemenparekraf/Baparekraf dan Traveloka berkolaborasi untuk memberikan stimulus diskon besar-besaran untuk perjalanan serta promosi melalui platform digital. Selain Traveloka, Kemenparekraf/Baparekraf juga menggandeng penyedia layanan kesehatan digital, seperti Prodia, Klinik Pintar, dan Biotest. Kerjasama ini dilakukan untuk menghadirkan layanan tes COVID-19.
Kolaborasi berbagai pihak ini dilakukan sebagai wujud kehadiran pemerintah untuk mengatasi krisis. Ke depannya, pemerintah berharap agar ragam inovasi sektor parekraf dapat terus diupayakan guna mempercepat kestabilan sektor ini.
Foto Cover: Ilustrasi penggunaan aplikasi digital yang memudahkan setiap aktivitas. (Shutterstock/ME Image)


Berita Terkait
rekomendasi berita

Transformasi Musik Dangdut dari Masa ke Masa

rekomendasi berita

Program Pengembangan Talenta Digital Kreatif di Indonesia

rekomendasi berita

Indonesia Bersiap Menjadi Destinasi Fashion Muslim Dunia