Penasaran sejarah Kemenparekraf? YukKlik Disini
London Book Fair 2022: Industri Penerbitan Indonesia Diminati Pasar Global

London Book Fair 2022: Industri Penerbitan Indonesia Diminati Pasar Global

1

Industri ekonomi kreatif tengah mengalami pemulihan, termasuk subsektor penerbitan. Pada April lalu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) bersama dengan sejumlah penerbit ikut berpartisipasi dalam London Book Fair 2022 di Inggris Raya. Acara ini menjadi kesempatan yang baik bagi pelaku di subsektor penerbitan untuk mendapatkan peluang dan termotivasi untuk berkembang serta berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.

“London Book Fair merupakan salah satu event yang terbesar di Eropa. Sambutan kepada penerbit Indonesia juga sangat baik. Booth yang disediakan penuh dan berlangsung sangat ‘hidup’. Banyak pertemuan business to business yang terjadi. Saya rasa ini respons yang sangat baik bagi penerbit di Indonesia,” kata Yuana  Rochma Astuti selaku Direktur Pemasaran Ekonomi Kreatif Kemenparekraf/Baparekraf.

Dibanding dengan negara-negara Asia Tenggara lainya, Indonesia memang menjadi yang terdepan, terutama untuk pasar buku anak muslim. Selain buku anak Muslim, genre lain dari dunia Islam, seperti buku pemikiran dan fiksi juga memiliki potensi pasar internasional, karena Indonesia dengan kekayaan wacana dan tradisi Islam dapat menyumbang banyak ke percakapan global dan dibutuhkan oleh pasar dunia.

Booth Indonesia di London Book Fair 2022. (Foto: Dok. Kemenparekraf).

Di Inggris, kebutuhan buku bertema dunia Islam mengalami pertumbuhan pesat seiring dengan pertambahan jumlah umat Islam di Eropa. Menurut Yuana, hal ini akan menjadi spot yang bisa diisi oleh penerbit Indonesia. Indonesia dianggap sangat potensial. Dengan demikian, perlu adanya konsistensi di pasar yang tengah berkembang.

“Dari segi nilai transaksi cukup besar. Berdasarkan data, potensinya bisa mencapai 50 miliar rupiah. Angka ini kami perkirakan akan terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu dan semakin banyaknya kerja sama yang terjalin dari London Book Fair kemarin,” lanjut Yuana.

Dalam mengikuti London Book Fair, Kemenparekraf menggandeng 10 co-exhibitor yang terdiri dari 2 (dua) literary agency, yaitu Borobudur Agency dan Literasia Creativa, serta 8 (delapan) penerbit yaitu Mizan Pustaka, Gagas Media, Gramedia International, Kanisius, Afterhours Book, re:ON Comics, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, dan Zikrul Bestari. Pihak-pihak yang terlibat dalam London Book Fair ini menjadi representasi dari para pelaku industri penerbitan di Indonesia. Dari London Book Fair ini, Yuana ingin para penerbit di Indonesia bisa memanfaatkan subsektor penerbitan tidak hanya sebagai buku, tapi sebagai IP yang bisa menjangkau subsektor lainnya.

“Industri penerbitan tidak hanya buku, tetapi juga potensi IP yang dimilikinya dan value creation. Kami membawa industri penerbitan, yaitu buku, tetapi efeknya bisa ke subsektor lain. Dari buku bisa ke film, kriya, dan subsektor ekonomi kreatif lainnya. Untuk mendukung hal tersebut, Kemenparekraf akan menjalin kerjasama dan kolaborasi dengan lembaga dan pihak terkait untuk mencari mekanisme paling efisien di tengah masalah yang akan dihadapi,” ujar Yuana.

Dari London Book Fair, Yuana mendapatkan beberapa masukan dari para penerbit agar potensi dan minat di industri penerbitan di Indonesia bisa semakin berkembang. Pertama, adalah untuk menjalankan kembali dana penerjemahan buku-buku Indonesia ke bahasa asing atau translation funding. Penerjemahan menjadi kunci utama memperkenalkan karya penulis Indonesia di dunia internasional.

Kedua adalah dengan menjadikan buku sebagai satu kesatuan dengan subsektor lain, tidak berdiri sendiri, dan dikaitkan dengan subsektor lainnya. Hal ini terkait dengan pengembangan model bisnis berbasis hak kekayaan intelektual atau intellectual property (IP), karena mulai dari buku kita bisa kembangkan menjadi film animasi dan video, pertunjukan, game, dan sebagainya. “Sudah waktunya semua pemangku kepentingan memiliki sudut pandang yang menyeluruh dalam mengintegrasikan subsektor-subsektor di dalam industri kreatif,” ujar Yuana.

Selain itu, penting pula bagi instansi pemerintah dan swasta dari berbagai bidang mulai lebih sering memperkenalkan buku-buku dari Indonesia kepada publik internasional. Saat ini ketika instansi pemerintahan dan swasta memberikan suvenir kepada tamu dari luar negeri, umumnya mereka lebih sering memberikan kriya dan cenderamata. Padahal kita juga bisa mulai memberikan buku-buku karya penulis Indonesia yang sudah diterjemahkan ke bahasa asing dan dikemas dengan menarik.

Potret Antusiasme Pengunjung London Book Fair 2022 di Booth Indonesia. (Foto: Dok. Kemenparekraf).

“Negara lain seperti misalnya Korea Selatan sudah menjalankan translation funding dan melakukannya dengan agresif. Di Indonesia pun kita lihat semakin banyak judul buku dari Korea Selatan yang mewarnai pasar penerbitan, baik buku fiksi, buku anak maupun buku motivasi. Menurut saya, mekanisme translation funding perlu dihidupkan di Indonesia karena akan menjadi pintu masuk penting untuk menarik calon investor,” ucap Yuana.

Menurut Yuana, pandemi yang semakin terkendali ini akan menjadi kesempatan yang baik untuk kembali bangkit. Terlebih dari London Book Fair 2022 kemarin, Indonesia ternyata cukup disegani dan terdepan. Yuana berharap semangat dan peluang dari London Book Fair terus dilanjutkan dan jangan sampai kesempatan ini direbut oleh negara lain. Selain aktif menggarap pasar penerbitan Indonesia di internasional, secara nasional pun pasar penerbitan harus terus digarap dengan serius agar kita tak hanya menjadi pasar untuk karya-karya dari penerbitan negara lain. 

“Indonesia harus bisa memanfaatkan kelebihannya, seperti yang kami temukan lewat London Book Fair kemarin, yaitu untuk buku anak dan buku pemikiran khas dunia Muslim. Saya menghimbau kepada seluruh penerbit untuk tetap semangat karena ini saatnya untuk mengikuti event-event offline nasional dan internasional. Dengan kondisi pandemi yang semakin membaik, ini akan menjadi momentum yang bagus untuk bangkit,” kata Yuana.

Foto Cover: Ilustrasi Kemeriahan London Book Fair. (shutterstock/plgould).

Kemenparekraf / Baparekraf
Kemenparekraf/Baparekraf RIJumat, 13 Mei 2022
813
© 2022 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif